By Asep

Asep

Selasa, 21 Oktober 2014

Ketika Google Glass Membuat Kecanduan

Ketika Google Glass Membuat Kecanduan

16 Oct, 2014

Google Glass PrescriptionsTeknologi seharusnya memudahkan hidup manusia. Namun ketika digunakan secara berlebihan, teknologi tersebut justru akan membuat hidup kita bertambah sulit.

Itulah pelajaran yang mungkin bisa dipetik dari kasus seorang pria di AS yang kecanduan Google Glass. Pria berumur 31 tahun dan berprofesi sebagai anggota angkatan laut AS tersebut terpaksa menjalani terapi karena mengalami ketergantungan terhadap Google Glass.

Kisah itu diungkapkan Dr. Andrew Loan dalam sebuah tulisan ilmiah berjudul Addictive Journal. Dr. Andrew sendiri adalah seorang peneliti di lembaga rehabilitasi Angkatan Laut AS yang menangani kasus pria tersebut.

Sebenarnya, alasan utama pria ini menggunakan Google Glass adalah membantunya melakukan inventori kendaraan di tempat ia bekerja. Namun akibat terbiasa, ia mengaku menggunakan Google Glass sekitar 18 jam per hari dan hanya menanggalkannya ketika mandi dan tidur. Masalah pun muncul ketika usia penggunaan menginjak dua bulan. Pria tersebut mengalami masalah memori, sering melakukan gerakan kompulsif, serta sering bermimpi seperti melihat segala sesuatu dari layar kecil Google Glass.

Pria ini pun terpaksa masuk ke fasilitas rehabilitasi di AL. Setelah diobservasi, dokter mendapati pria tersebut rutin menyentuh pelipis kanannya dengan jari telunjuk—gerakan yang biasa dilakukan untuk mengubah tampilan layar di Google Glass. Pria tersebut juga menjadi gampang tersinggung dan “ngeyelan” ketika tidak menggunakan Google Glass.

Seramnya lagi, usahanya lepas dari Google Glass lebih sulit dibandingkan saat ia mencoba menghentikan ketergantungannya atas minuman keras.

Kontroversi Ketergantungan

Sebenarnya, para ahli belum sepakat untuk mengkategorikan ketergantungan kita terhadap perangkat teknologi–seperti ponsel, komputer, atau pun Google Glass—sebagai sebuah masalah kejiwaan. Banyak ahli beranggapan, kecanduan perangkat elektronik sebenarnya adalah gejala dari masalah kejiwaan yang lebih besar. Pria ini sendiri sebelumnya memang pernah mengalami masalah depresi dan social phobia.

Namun Dr. Andrew Doan berpendapat sebaliknya. Menurutnya, masalah ketergantungan teknologi seharusnya dipandang lebih serius. “Dulu orang juga menganggap kecanduan alkohol bukan sebuah masalah” kata Andrew untuk menggambarkan kesamaan antara kecanduan alkohol dan teknologi. “Butuh waktu bagi kita untuk menyadari kecanduan teknologi itu adalah sebuah bahaya yang nyata” tambah Andrew.

Menurut R. Andrew, sebenarnya tidak ada yang salah dari teknologi atau perangkat seperti Google Glass. “Namun saat ini teknologi membuat jeda antar informasi dan kejadian semakin sempit” tambah Dr. Andrew. Jeda waktu yang sempit ini membuat orang yang merasa terasing atau ingin melarikan diri dari kenyataan semakin mudah menemukan pelampiasannya. “Dan wearable technology membuat pikiran orang-orang seperti itu bebas berkeliaran meski secara fisik berada di keramaian” tambah Dr. Andrew.

Sedangkan Daria Kruss, peneliti dari Nottingham Trent University yang mendalami topik kecanduan teknologi, menganggap penyebabnya bisa dari dua arah. “Kecanduan teknologi bisa terjadi karena penggunaan teknologi secara berlebihan sehingga menyebabkan masalah kejiwaan, atau menjadi gejala dari masalah kejiwaan yang lebih besar” ungkap Daria. Karena itu Daria menganggap perlu adanya studi mendalam untuk menentukan masalah kecanduan teknologi ini dan penanganan yang tepat.

Kecanduan teknologi sendiri tidak masuk ke dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang menjadi panduan ahli jiwa di seluruh dunia. Kecanduan teknologi hanya dimasukkan ke dalam appendix sebagai perilaku yang membutuhkan studi lebih mendalam. Sampai saat ini, hanya judi yang dikategorikan sebagai kecanduan yang tidak melibatkan penggunaan obat terlarang.

Pria yang kecanduan Google Glass sendiri kini berada dalam kondisi lebih baik. Setelah melakukan terapi selama 35 hari, ia kini bisa lebih tenang, gerakan kompulsifnya menurun, serta short-term memorinya membaik.

Semoga saja, ia benar-benar bisa keluar dari ketergantungannya terhadap Google Glass.

  Mitra  
  Peta Situs  
Best viewed with Mozilla Firefox And Google Chrome 5.x.x with 1024x768 resolution.